Belajar Sedikit soal Pengetahuan dari Russell

Gue ngelanjutin baca The Problems of Philosophy-nya Bertrand Russell setelah sekian lama tertunda. Baca buku ini bikin gue senang sekaligus mengernyitkan dahi.

Buat awam kayak gue, buku Russell ini lumayan membantu memahami problem filsafat, salah satunya problem pengetahuan.

Buku ini ditulis dengan jernih, walaupun beberapa kalimat masih bikin gue pusing. Ya, ketimbang baca Levinas, Hegel, Derrida, Lacan, Heidegger atau Deleuze… yang menulis topik yang sulit dengan gaya menulis yang sulit juga. Haha

Gue jadi keinget eseinya Bryan Magee, Sense and Nonsense (2002), yang bicara soal gaya menulis filsafat. Salah satu argumennya yang gue suka adalah ini: penting untuk membedakan antara kesukaran dan kekaburan.

Magee memberi contoh. Ketika filsuf kayak Plato(n), Hume dan Schopenhauer (ya, Magee salah satu pembaca doi) nulis soal problem filsafat yang sukar dengan prosa yang jernih, kejernihannya memang GA BIKIN PROBLEMNYA MENJADI MUDAH DIPECAHKAN. Namun, kejernihan prosanya akan menjabarkan kesukaran problem secara penuh sehingga dapat dipahami.

Magee menulis,

To suppose that if a problem is tortuously difficult it needs therefore to be addressed in prose that is tortuously difficult is to make a logical error

Balik lagi ke soal Russell.

Seperti ditulis di Prakata, problem soal teori pengetahuan menjadi fokus utama Russell di buku ini, di samping metafisika dan topik lainnya.

Di sini ini gue ga akan merangkum dan menganalisis tulisan Russell itu karena gue masih perlu banyak belajar. Gue cuman mau menulis poin-poin soal sumber pengetahuan kita menurut Russell.

Ada dua jenis pengetahuan: pengetahuan mengenai sesuatu benda dan pengetahuan soal kebenaran.

Di setiap kedua jenis pengetahuan tersebut ada dua jenis pengetahuan: langsung dan turunan (derivatif).

Pengetahuan langsung, melalui pengalaman, soal benda Russell sebut acquaintance. Berdasarkan bagaimana hal diketahui, pengetahuan acquaintance atas hal ihwal sendiri terdiri dari dua jenis, partikular atau universal. Magers…

Nih di bawah gue bikin bagannya (kalau ada koreksi nanti gue revisi)

Kamar 6 Kontrakan deket Pesantren Darul Tazkia, 18/2/19 sekitar jam 10-an pagi WIB

Iklan

Pengetahuan yang Banyak Bolongnya

Di tengah aktivitas gawe sepagi ini, gue kepikiran lagi soal keyakinan gue selama ini soal belajar: kok gue bisa yakin kalo gue bener2 paham sama apa yang gue pelajari, apa yang gue baca selama ini? Kan, gue belajarnya ga runut, serampangan, manasuka, alias banyak bolongnya?

Gue beberapa tahun lalu pernah menulis hal semacam ini, soal pengetahuan tak sistematis, di sini. Gue terus resah.

Merasa diri tahu memang bahaya. Kadang, di keseharian, gue terjebak dalam permainan merasa-tahu-benar-perkaranya.

Gue sebenernya masih pesimistis sama cara belajar gue ini. Waktu yang cepat berlari bikin gue megap2 sampe2 gue jarang berefleksi.

Sorry kalau gue ngeluh di sini. Tempat ini masih gue andalkan buat jadi tempat cerita–sebelum gue muak.

Kamar 6 Kontrakan deket Ponpes Darul Tazkia, 6/2/19 04:19 WIB

Alasan Aku Tak Ingin Mati Cepat: atau soal Anjing Kesayangan Sala

Salah satu alasan kenapa aku tidak ingin cepat mati sampai saat ini adalah ini: aku tak mau orang2 yang aku sayang menungguku kembali pulang.

Juga ini: aku tak ingin kucing kesayanganku, Blackpanty, menungguku pulang untuk mengajakku bermain.

Hatiku tersayat saat barusan melihat foto anjing kesayangan pesepakbola Emiliano Sala yang menunggu tuannya pulang. Sala tak akan pernah pulang, kawan.

Kita butuh teman yang setia.

Bareng Harini di Jawara Kerang, Bogor, 5/2/19 16:59 WIB

Kematian: atau soal Keteguhan Hati Sokrates

Di tengah hari-hari yang melelahkan karena kaki ini selalu menari di tepi jurang kehampaan, aku ingin belajar dari keteguhan hati Sokrates (entah dia memang ada atau tidak) ketika ia menjalani persidangan atas tuduhan telah meracuni pikiran anak muda dan tidak percaya dewa-dewa yang disembah di kotanya (yang Sokrates bantah dengan mantab).

Aku mengutip argumen Sokrates soal mengapa kita harus berani menjalani apa yang kita yakini bahkan di hadapan kematian. Aku mengutip kalimat dalam Apology-nya Plato(n) versi bahasa Inggris karena aku tidak bisa bahasa Yunani antik:

… [W]hen the god ordered me, as I thought and believed, to live the life of a philosopher, to examine myself and others, I had abandoned my post for fear of death or anything else.

Kematian memang misterius. Ia hadir tiba-tiba. Ketika kematian hadir (apakah ia benar-benar hadir secara ontologis? Ah sial ntahlah), aku tak ada lagi. Namun, setelah aku mati? Entahlah.

Sokrates berkata,

To fear death, gentlemen, is no other than to think oneself wise when one is not, to think one knows what one does not know. No one knows whether death may be the greatest of all blessings for a man, yet men fear it as if they knew that it is the greatest of evils.

Aku bukan Sokrates, tentu saja. Dan aku tidak sepenuhnya setuju dengan pendiriannya. Namun, aku sangat menghormati keteguhan hatinya itu.

Kamar 6 Pondok deket Ponpes Darul Tazkia, 4/2/19 15:07 WIB

Hidupku

It’s difficult for a man to speak long of himself without vanity; therefore, I shall be short.

Demikian David Hume membuka esei “My Own Life”.

Memang, di blog ini pun aku seolah2 berpretensi menulis soal hidupku tanpa pernah mau mengakui bahwa apa yang kutulis di sini hanyalah hal2 yang aku nilai layak ditulis di sini. Dengan lain perkataan, ada residu yang tak bisa kumasukkan di blog ini.

Lucu memang. Aku tetap tak mau kesombonganku terlukai bertubi-tubi.

Aku akhir2 ini sedang tidak menikmati hidupku. Semuanya serba lekas jemu, lekas pudar, dan melelahkan.

Aku sedang tidak membaca buku yang aku suka. Aku tidak bisa fokus. Aku sedang kehilangan daya hidup.

Mungkin aku masih terjebak di lorong gelap tanpa pernah merasakan tanda-tanda akan ada pancaran cahaya di ujung terowongan.

Mungkin.

Kedai C1No.1 Cisanggiri, Kebayoran Baru, 2/2/19 14:12 WIB

Does It Spark Joy?

“When we run over libraries /…/ what havoc must we make? If we take in our hand any volume; of self-help or postmo, for instance; let us ask, DOES IT SPARK JOY? No. Commit it then to the flames: For it can contain nothing but sophistry and illusion.”

#Hume feat #MarieKondo

Wkwkwk

Ditulis di Kamar 6 Pondok deket Pesantren Darut Tazkia, 18/1/19 11:15 WIB

Pemikir Mendalam Takut Dipahami?

Di waktu2 sepi dan kacau ini, kembali ke Nietzsche adalah tindakan yang koplak.

Nietzsche dalam BGE #290:

Every profound thinker is more afraid of being understood than of being misunderstood. The latter may hurt his vanity, but the former his heart, his sympathy, which always says: “Alas, why do you want to have as hard time as I did?”

Kamar 6 Pondok Jl Bhakti Ibu, 6/1/19 13:36 WIB

Gema Sepi dalam Tulisanku?

Selalu mencari cara mengutuhkan diri. Semuanya mengalir-penat. Bosan. Ingin menyentuh diri dengan intim.

Ini lagi baca2 Nietzsche buat bikin pikiran makin ruwet wkwk

Gue kutip deh ini #BGE (sorry ya om Nietzsche, gue baca versi terjemahan b. Inggrisnya karena ga bisa b. Jerman hehe):

In the writings of a hermit one always also hears something of the echo of the desolate regions, something of the whispered tones and the furtive look of solitude; in his strongest words, even in his cry there still vibrates a new and dangerous kind of silence–of burrying something in silence.

Oh ya, sorry sudah lama ga menulis ulang #CatatanJerry karena lagi mager dan ada sejumlah gawean.

Kamar 6 Pondok d Cibarengkok, deket Pasar Jengkol, 6/1/19 13:14 WIB

Tahun Baru

Bersama Nietzsche di dini hari sepi–mencoba memunguti serpihan cahaya di pojok2 kamar.

“Untuk Tahun Baru–Aku masih hidup, aku masih berpikir: aku masih harus terus hidup karena aku masih harus berpikir. Sum, ergo cogito: cogito ergo sum,” tulis Mr N dalam Pengetahuan yang Mengasyikkan Buku Empat Aforisme No. 276.


Kamar 6 Pondok Jl. Bhakti Ibu Deket Pesantren Daar El Tazkia, Ps Jengkol, 2/1/19 01:17

Kerja dan Kebosanan

Kerja dan kebosanan. Di tengah masyarakat kerja-upahan, ada segolongan orang yg lebih memilih musnah ketimbang bekerja tanpa kenikmatan.

Mereka adalah seniman dan perenung; juga, manusia-santai yang gemar menenggalamkan waktu senggangnya ke dalam aktivitas berburu, melancong liburan, petualangan, percintaan, demikian tulis Nietzsche dlm aforisme no. 42 buku Pengetahuan yang Mengasyikkan.

Orang2 pecinta waktu senggang tsb ‘do not fear boredom as much as work without pleasure’ karena ‘mereka benar2 butuh banyak kebosanan supaya karya mereka tercipta,’ kata Herr Nietzsche.

For thinkers and all sensitive spirits, boredom is that disagreeable ‘windless calm’ of the soul that precedes a happy voyage and cheerful winds. They have to bear it and must wait for its effect on them.

Menjelang pergantian tahun, Kamar 6 Pondok deket Pasar Jengkol, 29/12/2018, 07:45 WIB